NEW ARTICLES

Tampilkan postingan dengan label inspirator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirator. Tampilkan semua postingan

[Kisah Inspirasi] Seorang Hakim Pengadil Teladan di Indonesia

Written By Unknown on Sabtu, 19 Januari 2013 | Sabtu, Januari 19, 2013

Sabtu, 19 Januari 2013

nenek cantik

Kejadian ini terjadi di daerah Prabumulih sumatera selatan. Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

"Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia sepertii ini.
Read More | komentar

Perekam Pesanan Makanan Ramah Lingkungan Karya Siswa SMA

Written By Unknown on Selasa, 28 Agustus 2012 | Selasa, Agustus 28, 2012

Selasa, 28 Agustus 2012


SEMARANG, KOMPAS.com – Pernahkah terpikir di benak Anda, berapa banyak kertas yang digunakan restoran-restoran untuk menulis pesanan makanan? Dan, apakah memesan makanan di restoran harus selalu menggunakan kertas?

Banyaknya penggunaan kertas di restoran-restoran  dinilai tidak ramah lingkungan. Hal inilah yang  membuat dua siswi Semesta Boarding School Semarang, Dini Esfandiari dan Shofi Delaila Herdi menciptakan sebuah alat yang lebih praktis dan ramah lingkungan. Alat tersebut diberi nama Mini Multi Commander (MMC). Sebuah alat kecil berbentuk tabung untuk menyimpan pesan suara dan playback suara sebagai pengganti kertas.

Karya tersebut berhasil menyabet medali emas pada ajang National Young Inventor Award (NYIA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2011 lalu. Selain itu,  karya ini juga berhasil mengukir prestasi di ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Bangkok, Thailand akhir Juni lalu dengan mendapatkan Special Award dari tim juri pada kategori Recreational and Educational Invention.

Dini mengatakan, melalui alat yang mereka ciptakan, restoran tidak perlu menyediakan kertas untuk menuliskan pesan makanan. Tentunya akan menghemat pengeluaran untuk pembelian kertas dan ramah lingkungan. Sebab, kertas yang sudah digunakan biasanya tidak bisa terpakai.
“Kalau kertas untuk nota masih tetap, tapi untuk pemesanan tidak perlu menggunakan kertas jika menggunakan MMC ini,” katanya. 

Alat ini, ungkapnya, dirakit dari bahan-bahan yang sederhana dan tidak terlalu sulit dalam mencarinya. Misalnya, lampu LED kecil, display screen kecil, micro controller, ISD 25120 untuk perekam, baterai berbentuk kotak rechargable berkekuatan 9 volt, serta tempat bekas makanan ringan yang berbentuk bulat tabung yang digunakan sebagai bentuk luarnya.

“Sistem kerjanya, pengunjung bisa merekam suara jenis makanan apa saja yang akan dipesan dengan membuka tutup bagian atas, dan nanti alat akan diambil oleh pelayan untuk mengetahui pengunjung itu memesan apa. Caranya, dengan membuka tutup bagian bawah untuk mendengar. Jika ada pesan yang terekam, lampu LED akan menyala,” ujar pecinta olah raga tenis dan basket ini.

Sistem kerjanya seperti alat perekam (recorder) pada umumnya. Namun lebih minim tombol agar tidak membingungkan pemakai. Durasi rekaman bisa mencapai dua menit, dan sudah dicoba cukup untuk memesan sejumlah makanan di restoran atau café.

Tugas sekolah

Dini mengisahkan, awal terciptanya alat ini bermula dari tugas sekolah. Bersama Shofi, mereka melakukan survei terhadap penggunaan kertas untuk pemesanan makanan di sejumlah restoran dan café yang cukup besar di Semarang. Hasilnya, setiap restoran minimal menghabiskan uang sebesar Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu untuk pembelian kertas. Adapun, untuk membuat prototipe alat ini hanya menghabiskan uang sekitar Rp300 ribu dan bisa digunakan dalam jangka waktu lama.

“Setelah itu kertas hanya dibuang saja, padahal pengeluarannya besar. Dari situ kami berpikir untuk membuat alat yang lebih hemat dan tahan lama. Jadilah MMC ini. Kalau diproduksi banyak tentu akan lebih murah,” ujar gadis kelahiran Tegal, 11 November 1994.

Bukan hanya untuk merekam pesanan di restoran, alat ini juga multifungsi dan bisa dijadikan sebagai alarm pengingat atau pesan apa pun yang akan disampaikan. Sebab, pada alat tersebut juga terdapat komponen real time clock. Fungsinya bisa seperti alarm, namun menimbulkan suara.

“Misalnya untuk alarm bisa diisi dengan suara 'Bangun, bangun'. Atau, kalau orang tua akan meninggalkan pesan kepada anaknya ketika pergi seperti 'Jangan lupa makan atau jangan lupa mengerjakan PR', juga bisa. Jadi memang multifungsi,” jelasnya.

Saat ini, Dini dan Shofi, sudah lulus dari jenjang SMA. Shofi diterima di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Sementara, Dini  masih mencari universitas yang tepat dan memimpikan bisa kuliah di Fakultas Kedokteran UI untuk mewujudkan cita-citanya sebagai dokter, meski harus menunda kuliahnya tahun depan.

Sukses, ya!

Read More | komentar

Mimpi Andika Kuliah di PTN Terganjal Biaya Rp 4 Juta


Peluang mendapat Bidik Misi sangat kecil soalnya saya masuk dari jalur mandiri. Ditawari pinjaman dari advokasi UNJ, tapi saya takut enggak bisa melunasi tunggakannya.
-- Dika, penjual peyek bayam yang diterima di UNJ

DEPOK, KOMPAS.com — "...Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi". Itu penggalan lirik dari lagu yang dinyanyikan Bondan Prakoso featFade2Black. Lagu ini tak hanya menjadi hits di kalangan anak-anak muda, mungkin juga menginspirasi. 

Setidaknya, itulah yang diilhami oleh Andika Ramadhan Febriansah (19). Andika adalah seorang penjual peyek bayam. Akan tetapi, ia menyimpan sebuah mimpi besar: bisa melanjutkan pendidikan hingga ke pendidikan tinggi. Bagi Dika, tak ada yang mustahil dari sebuah mimpi. Namun, apa daya, ketika kenyataan membenturkannya pada persoalan biaya. 

Dika, demikian ia biasa disapa, sebenarnya telah lulus dari SMA Master alias Masjid Terminal, sebuah sekolah di area terminal Depok yang dikelola oleh Yayasan Bina Mandiri pada tahun 2011. Seluruh siswa di sekolah ini adalah anak-anak jalanan atau dari keluarga miskin.

Tahun lalu, Dika sempat mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan ujian SIMAK Universitas Indonesia, tetapi gagal. Mimpinya untuk kuliah terganjal, dan ia sibuk membantu kegiatan belajar mengajar di Sekolah Master sebagai staf administrasi. Di kala luang, ia terjun ke jalanan sebagai penjual peyek bayam di sekitar Jalan Margonda Raya, Depok.

Tahun ini, ia kembali meniti mimpinya. Meski gagal di SNMPTN, tapi ia berhasil menembus ketatnya persaingan masuk Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui jalur ujian mandiri. Oleh UNJ, ia dinyatakan diterima di Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Sejarah.

"Sekarang saya sudah diterima di kampus negeri, tapi ada masalah lain, yaitu biaya," ungkap Dika, saat ditemui Kompas.com, di Sekolah Master, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/8/2012).

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengatakan, setidaknya ia harus memenuhi kewajiban membayar biaya masuk hampir mencapai Rp 4 juta. Bagi dia dan keluarganya, sangat sulit mendapatkan uang sebesar itu, terlebih dalam waktu singkat. Penghasilannya dari berjualan peyek hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari. Tak berbeda jauh dengan penghasilan orangtuanya.

Tak lunasi, dinyatakan mundur

Dika akan dinyatakan mengundurkan diri oleh pihak kampus, jika sampai tanggal 11 Agustus belum melunasi biaya tersebut.

Menurut Dika, ia dan keluarganya telah berusaha mencari dana untuk menutupi biaya masuk tersebut. Salah satunya menghubungi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNJ untuk didampingi memperoleh beasiswa Bidik Misi. Akan tetapi, semuanya belum membuahkan hasil. Apalagi, Dika masuk melalui jalur ujian mandiri.

"Peluang mendapat Bidik Misi sangat kecil soalnya saya masuk dari jalur mandiri. Ditawari pinjaman dari advokasi UNJ, tapi saya takut enggak bisa melunasi tunggakannya," ucap Dika.

Sekarang, Dika yang bercita-cita ingin menjadi politikus ini hanya bisa berharap, menunggu bantuan dan keajaiban Tuhan. Ia bersiap mengobati rasa kecewa dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk: melewatkan kesempatan studi di kampus negeri. Gagal kuliah karena alasan ketidakmampuan finansial.

"Mudah-mudahan saya diberikan peluang. Saya siap kalau perlu diadu otak, jangan cuma finansial, tapi juga akademis," ujar Dika.


Read More | komentar

Translate


 
Copyright © 2011. dunia kampus | dunia mahasiswa . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template modify by Creating Website