NEW ARTICLES

Tampilkan postingan dengan label berita perkuliahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita perkuliahan. Tampilkan semua postingan

Mereka Terganjal Biaya Masuk ke PTN

Written By Unknown on Selasa, 28 Agustus 2012 | Selasa, Agustus 28, 2012

Selasa, 28 Agustus 2012

Saya akan mengurus keringanan biaya masuk kuliah. Saya tidak sanggup membayar Rp 16 juta. Orangtua sudah angkat tangan. Saya sedang mencari solusinya".

Tanpa banyak ingar- bingar, tujuh siswa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Bina Insan Mandiri Kota Depok lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Mereka menjawab segala keterbatasan dengan rasa syukur dan hasil yang maksimal.
Tujuh siswa yang mampu menembus perguruan tinggi negeri (PTN) itu adalah Alfis Syahrin (Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta/UNJ), Andika Ramadhan Febriansyah (Jurusan Sejarah UNJ), Bagus Pangke (Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ), Dwi Wulansari (Jurusan Sastra Indonesia UNJ), Mohamad Irvan (Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro), Muhammad Muar (Jurusan Manajemen Universitas Jenderal Soedirman), dan Prayudo (Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ). Sebagian dari mereka adalah pengamen terminal, mantan buruh bangunan, anak sopir angkot, anak sopir taksi, dan anak tukang cuci pakaian.
Beratnya kondisi ekonomi keluarga memaksa mereka bersekolah gratis di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Insan Mandiri, yang biasa disebut ”Sekolah Master” (masjid terminal). Namun, di antara rasa bahagia itu terselip kegalauan. Tujuh calon mahasiswa PTN itu kini terganjal biaya kuliah.
Mencari keringanan
Minggu (5/8) siang itu, Irvan sedang buru-buru ke Semarang menggunakan kereta api. ”Saya akan mengurus keringanan biaya masuk kuliah. Saya tidak sanggup membayar Rp 16 juta. Orangtua sudah angkat tangan. Saya sedang mencari solusinya,” kata anak sopir taksi itu.
Jangankan membayar biaya kuliah, melanjutkan belajar ke SMA saja orangtuanya sempat melarang. Mereka sudah tidak sanggup membiayai. Karena itu, dia memilih Sekolah Master.
”Mendengar kabar lolos seleksi, orangtua saya senang. Namun, setelah mendengar biaya yang harus dibayar, mereka menyarankan tidak mengambilnya. Maaf, saya harus buru-buru, doakan ada jalan keluar,” katanya.
Seorang temannya menyarankan menemui Badan Eksekutif Mahasiswa di Universitas Diponegoro untuk meminta keringanan biaya pendaftaran. Meski kecil harapan itu, Irvan tetap yakin masih ada peluang terbaik baginya.
Nasib serupa dialami enam siswa PKBM Bina Insan Mandiri yang lolos seleksi. Mereka tengah berusaha menyelesaikan masalah biaya. Upaya yang sama juga dilakukan pengelola sekolah yang berusaha menghubungi para donatur sekolah dan simpatisan untuk bisa menyisihkan dermanya.
Terganjal dana
Nurrohim, Pendiri dan Pembina Sekolah Master, mengaku bangga dengan prestasi anak asuhnya. Mereka pantang menyerah sehingga ia pun berusaha menemukan solusi.
Nurrohim tidak ingin anak-anak miskin itu terganjal dana. Persoalan seperti ini kerap muncul setelah mereka lolos seleksi. Satu tahun silam, tiga anak asuhnya menghadapi persoalan serupa. Namun, Dodi Dores dan Tuti Pujianti berhasil melaluinya meski tertatih-tatih. Sementara Muhammad Muar, yang diterima di UNJ, hanya sempat belajar setahun karena tak mampu membiayai dirinya yang masuk melalui jalur mandiri. Tahun ini, Muhammad kembali tembus lewat jalur reguler di Universitas Soedirman.
”Biayanya terlalu berat bagi saya. Saya baru tahu konsekuensi lewat jalur mandiri setelah masuk kuliah. Saya memutuskan ikut seleksi lagi mengambil jalur reguler dan masuk,” tutur Muhammad, anak pedagang sayur.
Sekolah Master memang bukan sekolah anak orang kaya. Sekolah ini berlokasi di sisi utara Terminal Depok yang dapat diakses dari Jalan Arif Rahman Hakim. Siswanya anak orang miskin, anak jalanan, dan telantar. Pengelola mengasuh 2.600 siswa mulai tingkat taman kanak-kanak sampai SMA.
Proses belajar-mengajar berlangsung di tempat yang sederhana, sebagian di bekas kontainer, gedung semipermanen, dan gedung bekas arena permainan biliar. Waktu belajar-mengajar mulai pukul 07.30-22.00. Pengelola membagi tiga bagian waktu belajar, pertama 07.30-12.30, kedua 13.30-17.00, dan ketiga 19.30-22.00. Kegiatan sekolah ditopang 115 guru sukarelawan yang terdiri dari alumni sekolah, mahasiswa, dan guru tamu dari kalangan profesional. Tidak ada gaji tetap untuk mereka selain pengganti uang transportasi.
Harus ada
”Sekolah ini harus ada. Jika tidak siapa yang menampung mereka yang tidak mampu dan telantar,” kata Roqibaini alias Beni, salah seorang sukarelawan Sekolah Master. Beni adalah alumni sekolah itu dan empat tahun terakhir mengabdikan waktunya untuk kegiatan sekolah.
Para siswa ini juga harus tahan ejekan. Andika Ramadhan Febriansyah, misalnya, sering menerima pertanyaan, mengapa sekolah di sana. ”Kata mereka, sekolahnya tidak jelas, sekolah tidak pakai seragam, ruang kelasnya di kontainer bekas,” kata Dika, panggilan akrabnya.
Sekolah Master memang tidak seperti sekolah lain. Pengelola membolehkan siswanya mengenakan pakaian apa saja asalkan sopan. Jam belajar siswa lebih pendek. Kadang guru mereka tidak datang karena harus mengerjakan sesuatu yang lebih penting. Hal ini dapat dimaklumi karena status mereka sukarelawan bukan pegawai tetap.
Dengan demikian, para siswa harus kreatif karena tak ada biaya untuk memakai jasa bimbingan belajar di luar sekolah untuk mengatasi ketertinggalan. Dwi, misalnya, memohon bantuan jasa sukarelawan mahasiswa Fakultas Ekonomi UI membimbingnya di luar jam sekolah.
Bermodal tekad, kreativitas, dan semangat besar itulah para pelajar miskin ini menembus tembok tebal PTN. Mereka berhasil masuk, tetapi kini mimpi mereka terganjal biaya kuliah.
Read More | komentar

UGM Bebaskan Biaya Kuliah 1.102 Mahasiswa Miskin


YOGYAKARTA, KOMPAS.com -- Kali ini Universitas Gadjah Mada (UGM) konsisten dengan predikatnya sebagai kampus kerakyatan. Konsistensi itu ditunjukan dengan kebijakan pembebasan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama satu semester bagi seluruh mahasiswa baru sebanyak 10.700 orang.
Bukan hanya itu, sekitar 23 persen dari 10.700 mahasiswa atau 1.280 mahasiswa mendapatkan pembebasan sumbangan SPMA. Dan sebanyak 1.102 mahasiswa miskin menerima beasiswa Bidik Misi dengan kuliah gratis selama 8 semester.
Rektor UGM Prof Dr Pratikno MSoc Sc mengatakan, kebijakan pembebasan SPP dan SPMA bagi mahasiswa dari keluarga berpendapatan terendah terbawah tersebut, sebagai bentuk komitmen UGM untuk meningkatkan akses pendidikan bagi mahasiswa miskin.
"Sementara kita fokuskan pada SPP dan SPMA. Kita memulai dari situ, sambil menunggu pemenuhan kewajiban oleh pemerintah yang komprehensif untuk meng-cover biaya pendidikan perguruan tinggi," kata Pratikno, Selasa (7/8/2012 ) di UGM.
Sesuai dengan mandat dan jati diri UGM sebagai universitas perjuangan, universitas nasional dan universitas kerakyatan, lanjut Pratikno, UGM tetap harus menjaga akses masyarakat dari seluruh pelosok indonesia untuk masuk ke UGM.
"Yang ini agak sulit sulit diwujudkan dalam waktu pendek. Sementara ini justru kita kejar meningkatkan akses calon mahasiswa kurang mampu untuk lebih mudah masuk kuliah di sini," katanya.
Selama kuliah, para mahasiswa yang berprestasi nantinya berhak mengajukan penawaran memperoleh beasiswa dari pihak ketiga. Pratikno menyebutkan sampai saat ini sekitar 43,2 persen mahasiswa UGM telah mendapatkan beasiswa yang berasal lebih dari 60 lembaga, dengan nilai nominal mencapai Rp 61,3 miliar.


Read More | komentar

Cara Unik Sri Sultan Layani Mahasiswa Miskin


Seandainya satu kampus menggratiskan lima mahasiswa itu kan sudah lumayan. Harga pohon jati setelah 15 tahun itu sepadan dengan biaya mahasiswa saat berkuliah
-- Sri Sultan HB X
JAKARTA, KOMPAS.com — Ada cara unik yang dipilih Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk membuka peluang mahasiswa miskin berprestasi di wilayahnya untuk menyelesaikan studi S-1. Caranya, membayar biaya kuliah mahasiswa tersebut dengan sebuah pohon jati berusia 15 tahun.

"Cara saya lain, saya tanam pohon jati. Setiap kampus yang mau menyubsidi orang miskin sampai lulus S-1 itu, saya bayar dengan pohon jati pada 15 tahun mendatang," kata Sri Sultan kepada Kompas.com, seusai menghadiri Sidang Kabinet Terbatas Bidang Pendidikan di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Selasa (31/7/2012).


Ia menjelaskan, sampai saat ini program tersebut telah berjalan selama tiga tahun dan melibatkan sedikitnya enam perguruan tinggi negeri/swasta. Kebijakan "nyentrik" ini sengaja diambil untuk menyiasati terbatasnya peluang masyarakat miskin dalam mengenyam pendidikan tinggi yang berkualitas.

Tidak main-main, Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta menyediakan lahan bebas seluas 10 hektar milik kabupaten/kota. Lahan tersebut akan ditanami ratusan pohon jati yang nantinya akan dimanfaatkan untuk mengganti biaya mahasiswa yang mengambil jenjang S-1 di perguruan tinggi bersangkutan.

"Seandainya satu kampus menggratiskan lima mahasiswa, itu kan sudah lumayan. Harga pohon jati setelah 15 tahun itu sepadan dengan biaya mahasiswa saat berkuliah," ujar Sultan.

Sebagai informasi, pemerintah telah menjamin hak pendidikan tinggi mahasiswa miskin melalui beasiswa Bidik Misi. Beasiswa tersebut diberikan pemerintah kepada sekitar 20.000 mahasiswa melalui perguruan tinggi negeri.

Akan tetapi, mahasiswa miskin yang menempuh studi di perguruan tinggi swasta belum mendapatkan pelayanan serupa. Terakhir, usulan pemerintah untuk memberikan beasiswa Bidik Misi kepada dua ribu mahasiswa di perguruan tinggi swasta juga ditangguhkan oleh Kementerian Keuangan, menyusul tak tersedianya anggaran karena harga BBM batal dinaikkan.

Hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar Rapat Kabinet Terbatas Bidang Pendidikan di Gedung Kemdikbud. Didampingi Wakil Presiden Boediono serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, berikut beberapa menteri lain dan gubernur sejumlah provinsi, agenda rapat membahas pembangunan pendidikan nasional.

Read More | komentar

nilai snmptn 2012 yang diterima di ugm

Written By Unknown on Rabu, 18 Juli 2012 | Rabu, Juli 18, 2012

Rabu, 18 Juli 2012


forward dari wall FB Direktur Akademik FT UGM Dr.Eng. Suharyanto

Gambaran tes tulis SNMPTN 2012 prodi2 di Fakultas Teknik UGM... Semoga bermanfaat... :)
#Prodi        // Keketatan* (%) // Skor_Min // Skor_Rerata // Skor_Max
- T Kimia     // 8.24           // 710      // 742         // 854*** //
- T Informasi // 2.05           // 694      // 727         // 793 //
- T Elektro   // 7.20           // 694      // 726         // 814 //
- T Geologi   // 3.33           // 700      // 723         // 781 //
- Arsitektur  // 3.73           // 692      // 719         // 775 //
- T Industri  // 7.28           // 681      // 713         // 812 //
- T Nuklir    // 10.31          // 670      // 710         // 901.93**//
- T Mesin     // 6.15           // 679      // 707         // 767 //
- T Sipil     // 6.24           // 681      // 707         // 795 //
- Fisika Teknk// 19.40          // 663      // 697         // 785 //
- PWK         // 4.92           // 660      // 690         // 816 //
- T Geodesi   // 6.79           // 650      // 677         // 769 //

#pembanding :
- Pddk Dokter // 3.29 // 769 // 799 // 871 //

ket :
*misalnya ketetatan 2% berarti dari 100 orang peminat prodi tersebut hanya diterima 2 orang saja

**skor tertinggi di UGM(untuk tahun ini nilai tertinggi snmptn di pegang mahasiswa nuklir 2012)

***skor rerata tertinggi di teknik, namun pend.dokter lebih tinggi

Read More | komentar

Translate


 
Copyright © 2011. dunia kampus | dunia mahasiswa . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template modify by Creating Website